Saat kata rindu tak mudah diucapkan

Rindu.

5 huruf yang berarti kamu sedang ingin bertemu atau bercengkrama atau ngobrol saja dengan seseorang.

Rindu yang kadang tak bisa diungkapkan.
Hanya bisa ditahan.

Aku merindukanmu.
Bukan rindu kepada teman.
Aku ingin lebih dari sekedar itu.

Advertisements

Kami Yang Masih Sendiri

Hai.

Usiaku saat menulis ini, masih 25 tahun.

Usia yang dimana, banyak orang sudah settle down, alias sudah menemukan tambatan hati dan menikah. Usia dimana pria atau wanita telah menemukan belahan jiwanya. Entah yang memang sudah lama menjalin kasih, atau baru hitungan jari menjalin kasih kemudian memutuskan untuk menua bersama.

25 tahun.

Usia yang ku lewati dengan banyaknya menerima undangan untuk menjadi bridesmaid , atau sekedar undangan menghadiri pernikahan kerabat atau kolega.

Kemudian hadir pertanyaan serta pengharapan. Mulai dari “wah, sebentar lagi, kamu nih.” , “mana calonnya?” ,”kapan?”, “tahun depan ya?” . Lelah? Jelas. Siapa yang tak lelah di cecar pertanyaan yang sama setiap hadir ke event dimana harusnya semua berbahagia.

Tahukah kalian para penanya, hati kami yang masih sendiri saat diberi pertanyaan seperti itu?

Bingung. Sedih. Dan merasa aneh.

Kami bukannya tidak berusaha untuk mencari pasangan. Namun, reaksi kami untuk menemukan The One itu amatlah sulit. 

Kami tak seberuntung mereka yang sudah menenemukan tambatannnya. Kami melalui rasanya sakit hati, lamanya menanti, serta juga rasa nya diabaikan padahal berharap banyak. 

Kami tak ingin terburu-buru. 

Kami hanya sedang mengobati hati.

Hakikat Pemimpin

Pemimpin.

Harus menjadi otak.
Pemikir dan pemberi solusi.

Harus menjadi mata.
Melihat. Tidak hanya peluang. Namun juga, kebaikan, kejelekan juga kesejahteraan, baik lawan apalagi kawan serta pengikutnya.

Harus menjadi telinga.
Mendengar dengan rendah hati kepada para pejago dan terlebih juga pada pengikutnya.

Harus mempunya mulut.
Untuk berbicara, memotivasi pengikut serta diri sendiri, dan menekuk lutut lawan.

Terlebih, harus punya hati.
Penyaring pikiran, mata, telinga serta mulut.

Pemimpin sejati merangkul. Bukan menunjuk.

Kenapa ya Tuhan?

Dia yang ku kenal sebagai teman, Kau buat ia di dalam pikiranku. Engkau Maha pembolak balik hati, aku tahu.

Tapi, kenapa dia?

Sosok yang hanya teman awalnya. Berada di pelukan teman ku yang lain saat itu, membuat hati ku perih. Aku menganggapnya hanya sebagai ketidak relaanku karena kehilangan sosok teman dan kakak.

Lama tak bertemu, membuat aku sedikit, sedikit saja yakin, bahwa rasa ini lebih dari rasa kagum seorang teman.

But he talked about someone else. Ia ingin aku membantunya untuk bersama orang lain (lagi) (selain aku).

Hati. Aku tahu kamu memilihnya, hati. Tapi logikaku menghindari dia. Tapi aku tidak mau menjauh dari dia. Aku belum siap kehilangan (lagi).

Bukankah kita kadang butuh seseorang. 

Bukan sahabat, bukan orangtua, bukan teman atau siapapun.

Seseorang yang mampu mengisi kekosongan. Yang mampu menyanjung kita seperti ia menyanjung senja. Seperti ia menyanjung keindahan.

Kita kadang butuh seseorang, walau kadang kita merasa diri kita pun sudah cukup.

Karena Tuhan sesungguhnya telah menciptakan manusia dengan sebelah hatinya yang hilang. Berusaha menemukan kepingan sebelah hatinya adalah keharusan.

Garis Tuhan yang tidak meluruskan proses tersebut harus kita nikmati dan jadikan pelajaran, Iri hati bisa jadi datang pada misi pencarian sebelah hati kita.

Bertanya, kapankah kita dapat berbagi tawa, sedih, susah, senang kita dengan si sebelah hati. Bertanya apakah sebelah hati kita akan menyayangi dan mencintai sepenuhnya seperti saat kita melihat satu hati yang telah bertemu.

Misteri.

Kamu dan soulmate mu, berbahagialah..

Iya.

Kamu dan setengah mu. You and your other half , buat yang merasa telah saling menemukan, berbahagialah.

Banyak legenda mengatakan, manusia itu sebenarnya terdiri dari 2. Para dewa dewi memisahkan karena mereka khawatir dengan kekuatan 2 orang tersebut.

Kamu dan dia yang telah dipertemukan dan dipersatukan oleh cinta, jagalah. Berbahagialah. Pasti ada banyak cerita dan kisah sampai akhirnya kalian bertemu dan yakin bahwa ia, adalah setengah mu yang hilang.

Tolong doakan kami, yang masih dalam pencarian separuh kami, untuk disegerakan, dipersatukan.

Oleh cinta.

Ekspektasi

Hai.

Salahkah kita, manusia memiliki ekspektasi? Sebuah harapan?

Jelekkah jika saya, wanita mempunyai harapan?

Memang saya dihadapkan pada realita. Realita yang kadang terlalu pahit. Kemudian menimbulkan ekspektasi. Memang harapan, jika terlalu tinggi, maka akan jatuh kita.

Namun kadang, ekspektasi dapat membuat orang membuka dirinya. Mengeluarkan apa yang menjadi jati diri mereka.

Tentang sepenggal tanya

Hai.

Kapan nikah?

Iya. Satu kalimat tanya itu, yang dapat membangkitkan salah tingkah serta kegalauan.

Buat yang sudah memiliki pasangan, tinggal lirik pasangan. Nah, buat yang masih sendiri. Mau lirik ke siapa? Tembok?

Hey buat kalian yang suka bertanya, walau hanya basa basi, tentang kapan akan menikah, kumohon berhentilah. Masih banyak yang dapat ditanyakan.

“Bagaimana kerjaan di kantor?”
“Boss mu masih yang itu? Masih sama polah tingkahnya?”
“Ga berniat buka usaha atau apa gtu?”

3 kalimat diatas adalah beberapa contoh kalimat tanya yang bisa kalian tanyakan selain “kapan menikah?”

Saya, yang masih sendiri, bukannya tidak memikirkan untuk mencari pasangan, untuk kemudian menikah.

Tapi, menemukan pasangan serta menuju pelaminan bukan hal yang mudah.

Saya, yang sedari remaja terbiasa mandiri, jadi mau tak mau melakukan apapun sendiri.

Saya pun bingung, saat kemudian dihadapkan untuk mempunyai pasangan. Membagi waktu, membuat diri saya “butuh orang lain” itu bukan hal yang mudah.

Mungkin saya harus banyak belajar, untuk mempercayakan diri saya pada orang lain.

Tapi hei, bukankah kita hanya bisa bergantung pada diri kita sendiri?

Ini mungkin hanya saya saja. Saya mungkin butuh orang yang pada akhirnya membuat saya luluh, namun ia juga tidak demanding. Dia mengerti saya independent dan tahu kapan bisa meredam kemandirian saya.

Jadi, yang suka nanya kapan nikah?, sabar aja. Saya pun sedang berbenah diri untuk saatnya dapat menjawab pertanyaan kalian

Perubahan Berubah

“Seseorang pasti akan berubah, berilah kesempatan”

Hai.

Kata-kata diatas, familiar ya? Apalagi untuk melapangkan dada seseorang yang telah disakiti, kemudian diminta untuk memberi kesempatan kedua.

Mudahkah seseorang berubah? Mudahkah lingkungan sekitarnya mau menerima perubahan?

Esensi ketertarikan

Hai.

Sebenarnya, apa sih esensi dari ketertarikan kita dengan pasangan?

Apa ya?

Pandangan pertama yang merasa kagum akan dirinya?

Atau, karena perbincangan yang menyambungkan dua pikiran?

Entah.

Aku pun masih belajar akan hal itu.

Tak munafik diriku. Aku memandang fisik. Kemudian apakah perbincangan kami bermuara pada satu dua pikiran yang sejalan.

Aku tertarik pada pandangan ku terhadapnya. Namun, jika perbincangan kami yang awalnya asyik, kenal satu sama lain, namun kemudian ada cela yang kutemukan, kemudian membuatku merasa aneh. Salahkah aku menarik diri?

Aku mengerti. Hubungan yang baik adalah hubungan yang sama-sama diusahakan.

Salahkah jika aku berpikir, bahwa jika hubungan terjalin, hanya aku yang berusaha?