Cadangan kedua

Hai.

Judul di atas bukan bermakna selingkuh atau nyeleweng.

Ini berkaitan dengan kehidupan sosial pada umumnya.

Mungkin, saya ini bisa kalian sebut lugu. Atau, bodoh. Boleh lah keduanya.

Sedih rasanya, kalau punya sahabat atau teman, yang kemudian menjadikan kita pilihan kedua , nomor kedua, atau hanya sekedar pilihan rencana.

Saya tahu diri kok. Namun, jika selalu di nomorduakan, apa tidak kesal? 

Apa tidak sebal, saat padahal kalian harusnya jadi janji pertama, kemudian jadi janji kedua?

Menurut saya, itu semua berkenaan dengan etika saja sih. Kalau dijadikan janji kedua, ketiga atau berapalah, kemudian saya membalas dan tak diungkit ya tidak jadi problem. Ini, sudah saya hanya mencontoh apa yang mereka lakukan kepada saya, eh, malah membahas “kamu itu kok malah ga bisa terus sih? Lain deh yang punya banyak teman” .  Saya hanya mampu menahan mulut serta perilaku saya. 

Ingat ya, saya tidak berubah. Namun perilaku kalian lah yang membuat saya beradaptasi.

Arti Sahabat (!)(?)

Hai.

 

Tolong beritahu aku apa itu arti sahabat!

 

Sahabat itu, yang selalu ada di samping kita bukan? Dalam keadaan suka maupun duka? Yang bisa begitu pengertian satu sama lain.

 

Ah, pengertian.

Pengertian dalam hal apa saja bukan?

Saat kita tersakiti oleh sahabat sendiri pun harus mengerti?

 

Bahkan menelan ego kita sendiri, itukah arti sahabat?

 

Panggil aku egois, picik. Namun aku juga seorang manusia. Ingin di mengerti. Ingin merasa dihargai bahkan oleh sahabat sendiri, yang harusnya sudah mengenal luar dan dalam hati.

 

Sedih rasanya, kemudian harus menelan ego sendiri, merasa bahwa kita harus mengerti orang lain, padahal, belum tentu orang itu juga mengerti akan keadaan kita. Belajar bangkit sendiri saat orang terdekat pun menyisihkan perasaan kita.

Diri Sendiri yang Bergantung pada Diri Sendiri

Hai.

 

Kata orang, kita hidup sebagai manusia yang membutuhkan manusia lain. Dan dalam prakteknya, ya memang iya. Kita butuh orang lain. Bukan hanya untuk meminta bantuan saja.

 

Kita butuh orang lain untuk bercerita, membagi kisah, bertukar pikiran, berkaca diri.

 

Ah iya, berkaca diri.

Kenapa berkaca diri? Kadang apa yang tidak kita sadari lakukan, akan terefleksikan dari diri orang lain.

 

Masa iya? ya , tidak tahu juga sih.

 

Lagi-lagi kata kebanyakan orang ya begitu. Ya, saya sedikit banyak merasakan itu sih.

Namun, kadang apa yang kita rasa lakukan kepada orang lain baik, sikap kita yang seperti itu tidak kembali pada kita.

 

Diri ini, diri kita sendiri dipaksa untuk mengerti akan keadaan orang lain. Sementara, apa yang sedang kita rasa, kadang tidak mampu dimengerti orang lain.

 

Paham tidak?

 

Begini. Saat orang lain sedang tidak enak hati, kita kadang mencoba mengerti bahwa perasaan mereka sedang tidak enak. Kita berusaha untuk memahami dan membuat hari mereka tidak jelek atau paling tidak, kita dapat membuat mereka menjadi tersenyum kembali.

 

Iya, kita berusaha mengerti. Tapi, apa orang lain pun berusaha mengerti apa yang terjadi pada kita?

 

Orang lain bisa dengan mudahnya tidak memikirkan apa yang sedang kita rasakan. MOrang lain bisa bertindak sesuka hati mereka.

 

Ya tidak salah sih. Itu kan tindak tanduk mereka.

 

Namun, salahkah kita jika kita mau bertindak seperti mereka? Tidak peduli. Apakah orang lain sedang mengalami hari yang berat, hari yang sedih atau pun senang?

 

Ah, aku ingin bisa seperti itu.

 

Tak tersandung kata “Baper”. Karena disadari atau tidak, setiap ucapan dari mulut orang lain akan terbawa ke dalam perasaan.

 

Paling tidak, jika kita ingin baik, berusahalah memmahami situasi. Berpeganglah, bahwa apa yang terlontar dan kita perbuat, nantinya akan dikembalikan pada kita. Kita tidak ingin tersakiti, maka berusahalah tidak menyakiti.

 

Jangan bergantung pada orang lain. Karena pada akhirnya, hanya diri kita lah yang dapat kita gantungkan harapan. Hanya diri kita yang dapat kita andalkan.

 

Baik berbuah baik 🙂

Aku dan cinta (kilat).

Aku bertemu denganmu.

Dari dunia maya, yang tak banyak orang percaya, perasaan dapat tumbuh dari media itu.

Namun, dengan cepatnya, bahkan bisa dibilang dengan mudahnya, kita memutuskan bersama.

Kalau kata orang jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Rasa akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku percaya hal itu. Ya, sebenarnya antara percaya atau tidak. Aku merasa, aku mungkin sedikit akan berpasrah pada waktu. Dengan berusaha membuat keadaan tetap baik.

Hey kamu, cinta(kilat)ku. Kalau boleh jujur, aku masih dalam proses untuk menerima hadirmu. Masih dalam proses menyiapkan sekelilingku, untuk menerima adanya kamu. Menerima adanya kata “Kita” di kamus setiap hariku. Belajar untuk tidak lupa, bahwa ada 1 orang yang ingin mengenal ku lebih dalam, yaitu, kamu, cinta(kilat)ku. Semoga “kita” bisa berjalan beriringan dengan tujuan yang sama.

Aku dan si iri.

Hai.

Iri hati itu dilarang kan oleh agama apapun.

Kita harus percaya bahwa Tuhan yang Maha Esa, sudah memilihkan rezeki tiap individdu masing-masing. Namun Tuhan juga tetap memberikan rasa yang tidak baik pada jiwa manusia untuk menguji imannya. Rasa yang tidak baik dikirimkan melalui setan yang tak kasat mata.

 

Namun, aku, saat ini, sedang diliputi rasa iri.

Rasa yang harusnya tidak boleh hadir.

 

Tunggu dulu. Aku boleh menjelaskan kan?

 

Usia pertengahan 20 menuju 30. Teman sebaya, entah yang dulunya bersama main petak umpet, merasakan pubertas bersama, belajar menjadi dewasa bersama, satu per satu menikah atau bertunangan atau berpacaran (walau sebenarnya dalam agama saya ini tidak diperkenankan, tapi menurut saya, paling tidak tahapan ini adalah tahapan atau sudah waktunya memikirkan masa depan dengan calon).

 

Sementara saya? masih sibuk dengan pekerjaan, penataran hati dan lain-lain.

 

Bukan. Bukan saya tak memikirkan untuk mencari kekasih dunia akhirat.

Saya mencari kok. Tapi selalu gagal. Selalu terhempas. Selalu sakit.

 

Aku bukannya tak percaya suratan yang telah ditulis Sang Maha Pencipta. Namun, aku sedang dalam situasi gamang, Situasi yang membuat diriku sendiri lelah mencari.

Aku iri dengan mereka yang telah memiliki pasangan. Terlepas dari apa yang mereka lalui, aku begitu ingin seperti mereka. Mempunyai calon pasangan yang begitu sayang, perhatian.

Aku yakin, suatu saat akan ada waktunya.

Aku akan berusaha membuang jauh perasaan iri ini.

 

Untukmu yang sedang mempersiapkan diri untuk bertemu denganku pada saatnya, ketahuilah, aku pun sedang mempersiapkan serta memperbaiki diriku. Hingga saat kita bertemu nanti , kita sama-sama pantas mendampingi satu sama lain 🙂

Sesulit itukah?

Hai.

Sulit ya. Menemukan seseorang yang ingin memperjuangkan kita.

Sesulit itukah?

Mengapa orang lain nampaknya mudah saja? Apa yang harus diriku tambah agar aku pun diperjuangkan?

Daya apa yang harus aku punya? Agar datang seseorang yang mempercayakan dirinya untuk memperjuangkan ku dan aku memperjuangkannya?

Apa aku ini terlalu mandiri untuk kalian?
Aku tak seperti tampak luar ku. Besar, kokoh dan bisa tanpa siapapun.

Aku lemah. Sama seperti perempuan yang lain. Menjadi malu pada pria yang kusuka.

Aku yang Tak Mampu

Hai.

Ini aku. Jadi sosok pendengarmu. Tanpa arah matamu yang memandangku.

Ini aku. Yang rela jadi penasihatmu. Tanpa apapun.

Aku yang hanya mampu mendengar, menimpali keluh kesahmu. Aku yang hanya mampu menjadi jembatan. Menahan beban hatimu, terlebih beban hatiku sendiri.

Aku yang memaksakan adanya senyuman diwajahku, saat kamu bercerita tentangnya. Yang berusaha ikut gembira saat matamu berbinar membicarakannya.

Inilah aku. Yang tak mampu membuatmu melirik, bahkan hanya untuk sebentar saja. Aku yang tak mampu menggoyahkan hatimu yang terpaut dengannya.

Kenyamanan

Aku bisa memberi kenyamanan.

Memberi rasa nyaman saat kamu bercerita apapun padaku.

Aku yang terlalu banyak berharap. Padahal kamu hanya mencari nyaman. Mencari tempat bersandar, selagi kamu mencari tempat lain yang mampu membuat kamu bersandar dan juga berlabuh.

Jika hanya mencari kenyamanan yang telah kubangun aendiri dan berharap aku mau membaginya denganmu, maka pergilah.

Aku tidak mau kita hanya saling mengambil kenyamanan.

Aku ingin kita membangun rasa nyaman itu.

Siapkah kau ‘tuk (belum) Jatuh Cinta?

Sore hari.

Perbincangan dengan seorang teman.

Yang tak percaya akan kepolosanku dalam hubungan cinta. Yang menganggap aku ini adalah 1:1000.

Seseorang yang menurutku berhati-hati, namun bagi dia, aku ini penakut.

Entah apa definisi penakut disini. Aku yang takut kehilangan sesuatu yang suci dalam diriku, Atau ketakutanku “terikat” dengan orang lain.

Aku mungkin selalu ada di waktu yang salah.

Rasa kagum yang tak berujung pada sosok seniorku yang harus berakhir pedih.

Kisah cinta masa SMA yang tak seindah kata buku dan film.

Cinta tanpa adanya “label” di awal usia 20. Cerita-cerita tersebut mungkin turut andil membentuk diriku yang sekarang.

Yang kata orang tak membuka hati, yang tak luwes dengan pria.

Kalian tak tahu apa yang sudah kualami. 

Mungkin menurut kalian, apa yang aku alami hanyalah kerikil. Iya. Namun kerikil yang terus tersangkut di sepatuku yang kadang membuatku harus berhenti untuk sekedar membersihkan dan mengeluarkan kerikil itu.

Jatuh cinta tak sesederhana kelihatannya. Jatuh cinta rumit ya.

Berbahagialah kalian yang setelah jatuh bangun kemudian mendapatkan cinta yang layak dan sejati.

Karena bagiku, jatuh cinta dan membuka hati, adalah hal yang sulit.