Cadangan kedua

Hai.

Judul di atas bukan bermakna selingkuh atau nyeleweng.

Ini berkaitan dengan kehidupan sosial pada umumnya.

Mungkin, saya ini bisa kalian sebut lugu. Atau, bodoh. Boleh lah keduanya.

Sedih rasanya, kalau punya sahabat atau teman, yang kemudian menjadikan kita pilihan kedua , nomor kedua, atau hanya sekedar pilihan rencana.

Saya tahu diri kok. Namun, jika selalu di nomorduakan, apa tidak kesal? 

Apa tidak sebal, saat padahal kalian harusnya jadi janji pertama, kemudian jadi janji kedua?

Menurut saya, itu semua berkenaan dengan etika saja sih. Kalau dijadikan janji kedua, ketiga atau berapalah, kemudian saya membalas dan tak diungkit ya tidak jadi problem. Ini, sudah saya hanya mencontoh apa yang mereka lakukan kepada saya, eh, malah membahas “kamu itu kok malah ga bisa terus sih? Lain deh yang punya banyak teman” .  Saya hanya mampu menahan mulut serta perilaku saya. 

Ingat ya, saya tidak berubah. Namun perilaku kalian lah yang membuat saya beradaptasi.