Arti Sahabat (!)(?)

Hai.

 

Tolong beritahu aku apa itu arti sahabat!

 

Sahabat itu, yang selalu ada di samping kita bukan? Dalam keadaan suka maupun duka? Yang bisa begitu pengertian satu sama lain.

 

Ah, pengertian.

Pengertian dalam hal apa saja bukan?

Saat kita tersakiti oleh sahabat sendiri pun harus mengerti?

 

Bahkan menelan ego kita sendiri, itukah arti sahabat?

 

Panggil aku egois, picik. Namun aku juga seorang manusia. Ingin di mengerti. Ingin merasa dihargai bahkan oleh sahabat sendiri, yang harusnya sudah mengenal luar dan dalam hati.

 

Sedih rasanya, kemudian harus menelan ego sendiri, merasa bahwa kita harus mengerti orang lain, padahal, belum tentu orang itu juga mengerti akan keadaan kita. Belajar bangkit sendiri saat orang terdekat pun menyisihkan perasaan kita.

Advertisements

Diri Sendiri yang Bergantung pada Diri Sendiri

Hai.

 

Kata orang, kita hidup sebagai manusia yang membutuhkan manusia lain. Dan dalam prakteknya, ya memang iya. Kita butuh orang lain. Bukan hanya untuk meminta bantuan saja.

 

Kita butuh orang lain untuk bercerita, membagi kisah, bertukar pikiran, berkaca diri.

 

Ah iya, berkaca diri.

Kenapa berkaca diri? Kadang apa yang tidak kita sadari lakukan, akan terefleksikan dari diri orang lain.

 

Masa iya? ya , tidak tahu juga sih.

 

Lagi-lagi kata kebanyakan orang ya begitu. Ya, saya sedikit banyak merasakan itu sih.

Namun, kadang apa yang kita rasa lakukan kepada orang lain baik, sikap kita yang seperti itu tidak kembali pada kita.

 

Diri ini, diri kita sendiri dipaksa untuk mengerti akan keadaan orang lain. Sementara, apa yang sedang kita rasa, kadang tidak mampu dimengerti orang lain.

 

Paham tidak?

 

Begini. Saat orang lain sedang tidak enak hati, kita kadang mencoba mengerti bahwa perasaan mereka sedang tidak enak. Kita berusaha untuk memahami dan membuat hari mereka tidak jelek atau paling tidak, kita dapat membuat mereka menjadi tersenyum kembali.

 

Iya, kita berusaha mengerti. Tapi, apa orang lain pun berusaha mengerti apa yang terjadi pada kita?

 

Orang lain bisa dengan mudahnya tidak memikirkan apa yang sedang kita rasakan. MOrang lain bisa bertindak sesuka hati mereka.

 

Ya tidak salah sih. Itu kan tindak tanduk mereka.

 

Namun, salahkah kita jika kita mau bertindak seperti mereka? Tidak peduli. Apakah orang lain sedang mengalami hari yang berat, hari yang sedih atau pun senang?

 

Ah, aku ingin bisa seperti itu.

 

Tak tersandung kata “Baper”. Karena disadari atau tidak, setiap ucapan dari mulut orang lain akan terbawa ke dalam perasaan.

 

Paling tidak, jika kita ingin baik, berusahalah memmahami situasi. Berpeganglah, bahwa apa yang terlontar dan kita perbuat, nantinya akan dikembalikan pada kita. Kita tidak ingin tersakiti, maka berusahalah tidak menyakiti.

 

Jangan bergantung pada orang lain. Karena pada akhirnya, hanya diri kita lah yang dapat kita gantungkan harapan. Hanya diri kita yang dapat kita andalkan.

 

Baik berbuah baik 🙂

Aku dan cinta (kilat).

Aku bertemu denganmu.

Dari dunia maya, yang tak banyak orang percaya, perasaan dapat tumbuh dari media itu.

Namun, dengan cepatnya, bahkan bisa dibilang dengan mudahnya, kita memutuskan bersama.

Kalau kata orang jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Rasa akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku percaya hal itu. Ya, sebenarnya antara percaya atau tidak. Aku merasa, aku mungkin sedikit akan berpasrah pada waktu. Dengan berusaha membuat keadaan tetap baik.

Hey kamu, cinta(kilat)ku. Kalau boleh jujur, aku masih dalam proses untuk menerima hadirmu. Masih dalam proses menyiapkan sekelilingku, untuk menerima adanya kamu. Menerima adanya kata “Kita” di kamus setiap hariku. Belajar untuk tidak lupa, bahwa ada 1 orang yang ingin mengenal ku lebih dalam, yaitu, kamu, cinta(kilat)ku. Semoga “kita” bisa berjalan beriringan dengan tujuan yang sama.