Aku dan si iri.

Hai.

Iri hati itu dilarang kan oleh agama apapun.

Kita harus percaya bahwa Tuhan yang Maha Esa, sudah memilihkan rezeki tiap individdu masing-masing. Namun Tuhan juga tetap memberikan rasa yang tidak baik pada jiwa manusia untuk menguji imannya. Rasa yang tidak baik dikirimkan melalui setan yang tak kasat mata.

 

Namun, aku, saat ini, sedang diliputi rasa iri.

Rasa yang harusnya tidak boleh hadir.

 

Tunggu dulu. Aku boleh menjelaskan kan?

 

Usia pertengahan 20 menuju 30. Teman sebaya, entah yang dulunya bersama main petak umpet, merasakan pubertas bersama, belajar menjadi dewasa bersama, satu per satu menikah atau bertunangan atau berpacaran (walau sebenarnya dalam agama saya ini tidak diperkenankan, tapi menurut saya, paling tidak tahapan ini adalah tahapan atau sudah waktunya memikirkan masa depan dengan calon).

 

Sementara saya? masih sibuk dengan pekerjaan, penataran hati dan lain-lain.

 

Bukan. Bukan saya tak memikirkan untuk mencari kekasih dunia akhirat.

Saya mencari kok. Tapi selalu gagal. Selalu terhempas. Selalu sakit.

 

Aku bukannya tak percaya suratan yang telah ditulis Sang Maha Pencipta. Namun, aku sedang dalam situasi gamang, Situasi yang membuat diriku sendiri lelah mencari.

Aku iri dengan mereka yang telah memiliki pasangan. Terlepas dari apa yang mereka lalui, aku begitu ingin seperti mereka. Mempunyai calon pasangan yang begitu sayang, perhatian.

Aku yakin, suatu saat akan ada waktunya.

Aku akan berusaha membuang jauh perasaan iri ini.

 

Untukmu yang sedang mempersiapkan diri untuk bertemu denganku pada saatnya, ketahuilah, aku pun sedang mempersiapkan serta memperbaiki diriku. Hingga saat kita bertemu nanti , kita sama-sama pantas mendampingi satu sama lain 🙂