Kami Yang Masih Sendiri

Hai.

Usiaku saat menulis ini, masih 25 tahun.

Usia yang dimana, banyak orang sudah settle down, alias sudah menemukan tambatan hati dan menikah. Usia dimana pria atau wanita telah menemukan belahan jiwanya. Entah yang memang sudah lama menjalin kasih, atau baru hitungan jari menjalin kasih kemudian memutuskan untuk menua bersama.

25 tahun.

Usia yang ku lewati dengan banyaknya menerima undangan untuk menjadi bridesmaid , atau sekedar undangan menghadiri pernikahan kerabat atau kolega.

Kemudian hadir pertanyaan serta pengharapan. Mulai dari “wah, sebentar lagi, kamu nih.” , “mana calonnya?” ,”kapan?”, “tahun depan ya?” . Lelah? Jelas. Siapa yang tak lelah di cecar pertanyaan yang sama setiap hadir ke event dimana harusnya semua berbahagia.

Tahukah kalian para penanya, hati kami yang masih sendiri saat diberi pertanyaan seperti itu?

Bingung. Sedih. Dan merasa aneh.

Kami bukannya tidak berusaha untuk mencari pasangan. Namun, reaksi kami untuk menemukan The One itu amatlah sulit. 

Kami tak seberuntung mereka yang sudah menenemukan tambatannnya. Kami melalui rasanya sakit hati, lamanya menanti, serta juga rasa nya diabaikan padahal berharap banyak. 

Kami tak ingin terburu-buru. 

Kami hanya sedang mengobati hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s