Siapkah kau ‘tuk (belum) Jatuh Cinta?

Sore hari.

Perbincangan dengan seorang teman.

Yang tak percaya akan kepolosanku dalam hubungan cinta. Yang menganggap aku ini adalah 1:1000.

Seseorang yang menurutku berhati-hati, namun bagi dia, aku ini penakut.

Entah apa definisi penakut disini. Aku yang takut kehilangan sesuatu yang suci dalam diriku, Atau ketakutanku “terikat” dengan orang lain.

Aku mungkin selalu ada di waktu yang salah.

Rasa kagum yang tak berujung pada sosok seniorku yang harus berakhir pedih.

Kisah cinta masa SMA yang tak seindah kata buku dan film.

Cinta tanpa adanya “label” di awal usia 20. Cerita-cerita tersebut mungkin turut andil membentuk diriku yang sekarang.

Yang kata orang tak membuka hati, yang tak luwes dengan pria.

Kalian tak tahu apa yang sudah kualami. 

Mungkin menurut kalian, apa yang aku alami hanyalah kerikil. Iya. Namun kerikil yang terus tersangkut di sepatuku yang kadang membuatku harus berhenti untuk sekedar membersihkan dan mengeluarkan kerikil itu.

Jatuh cinta tak sesederhana kelihatannya. Jatuh cinta rumit ya.

Berbahagialah kalian yang setelah jatuh bangun kemudian mendapatkan cinta yang layak dan sejati.

Karena bagiku, jatuh cinta dan membuka hati, adalah hal yang sulit.

Advertisements

Kami Yang Masih Sendiri

Hai.

Usiaku saat menulis ini, masih 25 tahun.

Usia yang dimana, banyak orang sudah settle down, alias sudah menemukan tambatan hati dan menikah. Usia dimana pria atau wanita telah menemukan belahan jiwanya. Entah yang memang sudah lama menjalin kasih, atau baru hitungan jari menjalin kasih kemudian memutuskan untuk menua bersama.

25 tahun.

Usia yang ku lewati dengan banyaknya menerima undangan untuk menjadi bridesmaid , atau sekedar undangan menghadiri pernikahan kerabat atau kolega.

Kemudian hadir pertanyaan serta pengharapan. Mulai dari “wah, sebentar lagi, kamu nih.” , “mana calonnya?” ,”kapan?”, “tahun depan ya?” . Lelah? Jelas. Siapa yang tak lelah di cecar pertanyaan yang sama setiap hadir ke event dimana harusnya semua berbahagia.

Tahukah kalian para penanya, hati kami yang masih sendiri saat diberi pertanyaan seperti itu?

Bingung. Sedih. Dan merasa aneh.

Kami bukannya tidak berusaha untuk mencari pasangan. Namun, reaksi kami untuk menemukan The One itu amatlah sulit. 

Kami tak seberuntung mereka yang sudah menenemukan tambatannnya. Kami melalui rasanya sakit hati, lamanya menanti, serta juga rasa nya diabaikan padahal berharap banyak. 

Kami tak ingin terburu-buru. 

Kami hanya sedang mengobati hati.