Ekspektasi

Hai.

Salahkah kita, manusia memiliki ekspektasi? Sebuah harapan?

Jelekkah jika saya, wanita mempunyai harapan?

Memang saya dihadapkan pada realita. Realita yang kadang terlalu pahit. Kemudian menimbulkan ekspektasi. Memang harapan, jika terlalu tinggi, maka akan jatuh kita.

Namun kadang, ekspektasi dapat membuat orang membuka dirinya. Mengeluarkan apa yang menjadi jati diri mereka.

Advertisements

Tentang sepenggal tanya

Hai.

Kapan nikah?

Iya. Satu kalimat tanya itu, yang dapat membangkitkan salah tingkah serta kegalauan.

Buat yang sudah memiliki pasangan, tinggal lirik pasangan. Nah, buat yang masih sendiri. Mau lirik ke siapa? Tembok?

Hey buat kalian yang suka bertanya, walau hanya basa basi, tentang kapan akan menikah, kumohon berhentilah. Masih banyak yang dapat ditanyakan.

“Bagaimana kerjaan di kantor?”
“Boss mu masih yang itu? Masih sama polah tingkahnya?”
“Ga berniat buka usaha atau apa gtu?”

3 kalimat diatas adalah beberapa contoh kalimat tanya yang bisa kalian tanyakan selain “kapan menikah?”

Saya, yang masih sendiri, bukannya tidak memikirkan untuk mencari pasangan, untuk kemudian menikah.

Tapi, menemukan pasangan serta menuju pelaminan bukan hal yang mudah.

Saya, yang sedari remaja terbiasa mandiri, jadi mau tak mau melakukan apapun sendiri.

Saya pun bingung, saat kemudian dihadapkan untuk mempunyai pasangan. Membagi waktu, membuat diri saya “butuh orang lain” itu bukan hal yang mudah.

Mungkin saya harus banyak belajar, untuk mempercayakan diri saya pada orang lain.

Tapi hei, bukankah kita hanya bisa bergantung pada diri kita sendiri?

Ini mungkin hanya saya saja. Saya mungkin butuh orang yang pada akhirnya membuat saya luluh, namun ia juga tidak demanding. Dia mengerti saya independent dan tahu kapan bisa meredam kemandirian saya.

Jadi, yang suka nanya kapan nikah?, sabar aja. Saya pun sedang berbenah diri untuk saatnya dapat menjawab pertanyaan kalian