Hai.

Sepenggal cerita tentang hati.
Hati yang dulu hanya mengenal cinta dan kasih sayang dari ayah dan ibu serta saudara sekandung.

Kemudian, saat beranjak remaja, hati mulai meluas. Mencinta sahabat dan lawan jenis.

Yang paling sulit dicerna adalah hati pada lawan jenis. Pria.

Aku suka pada seorang pria. Membuka hati untuk pria itu. Namun, kisah kami, bukan. Kisahku. Hanya sebatas pandang dengan pria itu. Namun dari sebatas pandang itu, aku tak bisa lupa akan sosoknya.

Merasa tak pantas memiliki dia. Kututup hati. Hingga satu waktu, ada yang mengetuknya. Ku coba membuka hati kembali. Hanya kecewa. Apa yang menjadi pemikiran serta prinsipku, tal sejalan dengannya.

Pintu hati perlahan tertutup. Tidak. Aku tidak menguncinya rapat-rapat. Sahabat mengingatkanku untuk tidak menguncinya.

Kemudian, ia, datang. Mengetuk. Aku membuka, namun hanya separuh. Dan benar saja. Ia hanya ingin melihat apakah didalam pintu masih ada seseorang. Iya, masih ada aku yang masih lemah dan mudah saja jatuh cinta. Kemudian membiarkan pintu hatiku terbelalak. Aku pun buru-buru menutupnya.

Aku, kali ini hanya ingin menutup pintu hati rapat-rapat. Lelah. Biarlah hati ini tertutup hingga ada seseorang yang tak lelah mengetuk, hingga aku membukanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s