Hidup kadang bukan hanya sekedar kita menjalaninya. Hidup adalah pembelajaran. Tempat kita ditempa, menjadi sosok yang akan lekat pada diri kita.

Kuatlah. Tuhan tidak menciptakan kita tanpa suatu alasan.

Tegarlah. Karena mau sebanyak apapun kita dikelilingi orang yang dekat dengan kita, tetap, kitalah yang menjadi tumpuan diri sendiri.

Tersenyumlah. Belajar melepas dan memaafkan. Hal-hal itu sudah sepatutnya kita pelajari, dan lekatkan pada diri kita 🙂

Advertisements

Hai malam.

Beberapa hari ini, kadang aku selalu berteman dengan mu.

Hai malam.
Hatiku sedang bergejolak. Entah karena aku yang sedang dilanda lara, atau karena memang, malam adalah waktunya aku.

Hai malam.
Jangan bosan ya, kadang aku masih mengejar asa dan harapan di malam hari. Namun sebenarnya,aku lebih senang jika bertemu denganmu, malam, adalah merenung. Berkaca tentang apa yang aku lakukan dari pagi hingga petang, dan menujumu malam.

Hai malam.
Aku titip ya, segala keluh kesah ku kepada Tuhan yang satu, yang selalu kau dengar malam.

Terimakasih, malam 😊

Aku.
Si wanita yang kini tengah mencari jati diri. Berusaha mencintai apa yang selama ini dikerjakan. Mencintai sepenggal pekerjaan.

Aku.
Si wanita yang kini, tengah bingung. Cinta dari sosok seperti apa yang dicari.

Aku.
Si wanita yang terus berusaha menertawakan kemalangannya, bersama teman-temannya demi melupakan kemalangan itu sendiri.

Aku.
Si wanita yang kadang iri, dengan mereka yang telah mencapai standard bahagia menurut orang lain.

Aku.
Si wanita yang berusaha punya keteraturan hati dan hidup. Meski sulit dan lelah, untuk jadi diri sendiri tanpa peduli omongan orang.

Jiwa mandiri yang rapuh

Aku ini wanita.

Mandiri.

Namun rapuh.

Ya, memang, aku dapat melalukan apa saja sendiri. Begitu berani pulang malam sendiri tanpa ditemani. Sanggup makan sendirian. Bisa jalan kemanapun aku suka sendirian. Kadang bisa menghadapi senang dan susah sendiri.

Tapi, sekali lagi. Aku ini wanita. Perempuan. Tuhan sudah menggarislan kalau aku butuh seseorang. Lebih dari sekedar sahabat ataupun teman.

Iri kadang, melihat wanita-wanita lain telah menemukan belahan jiwanya. Betapa belahan jiwanya begitu menyayangi, mengagumi dan mencintai perempuan itu.

Iya, aku juga beruntung, dikelilingi keluarga, saudara, sahabat serta teman yang begitu baik. Namun, salahkah? Kalau aku berharap, ada sosok pria spesial, yang begitu mengagumi aku, menyayangi serta rela membagi waktunya hanya denganku?

Aku tidak meminta banyak. Hanya dia, yang mampu melindungi, menyayangi dan mencintai aku setulus hati. Mengagumiku, seperti kelak aku akan mengaguminya. Merajut benang impian masa depan.

Semoga kamu sedang memantaskan diri. Seperti aku yang sedang berusaha memantaskan diriku untukmu.

Hujan

Klise ya.

Sudah kelewat banyak, yamg cerita tentang hujan. Apa yang hadir saat hujan.

Sekumpulan orang galau bercerita tentang hujan.

Hujan punya daya magis ya. Mendengarkan hujan saja membuat tenang. Aku suka saat hujan. Berisiknya, menyembunyikan suara tangis. Kadang menjadi saksi hadirnya sebuah senyuman. Tapi memang lebih banyak untuk menutupi tangisan.

Diperjuangkan

Hei..
Kalian yang sudah pernah diperjuangka.
Apa sih rasanya?
Menyenangkan?
Merasa dihargai?

Aku ingin sekali merasakan rasanya diperjuangkan.

Dalam cinta, aku ingin ada sosok yang mampu memperjuangkan aku. Tidak. Bukan hanya dengan lisan. Aku lebih senang melihat perbuatan memperjuangkan aku.

Terlalu sering aku berjuang untuk diriku sendiri dan bahkan orang lain.

Memperjuangkan keinginan orang lain, memperjuangkan hati orang lain, memperjuangkan kesenangan orang lain.

Aku pun berjuang untuk kebahagiaanku sendiri.

Namun aku ingin diperjuangkan. Dipilih seseorang kemudian dilindungi habis-habisan kebahagiaannya. Walau aku tahu, bahagia didapat saat kita berhasil berjuang demi diri sendiri.

Aku akan bercerita lagi, saat aku telah menemukan dia, yang memperjuangkan aku 😊

^wap

Kadang, lisan kita begitu tajam mengkritik. Namun apa yang keluar dari bibir serta lidah kita adalah hasil proses penglihatan serta perasaan yang diolah ke otak, kemudian terlontar melalui ucapan.

Prosesnya cukup panjang ya.

Karena itulah, saat kita dikritik, kita pun harus berkaca. Apa yang telah kita perbuat (dilihat orang) dan apa yang kita verbalkan (dirasakan melalui perasaan).

Aku terus mengalah, bukan karena aku kalah. Aku mencoba tahu dengan caraku, apakah aku merupakan sesuatu bagimu. Pengisi ruang hati, pemenuh pikiran, dan seseorang yang pantas kau perjuangkan.

^wap