Aku dan hatiku

Pernahkah kalian berpikir, bahwa kadang,hidup sulit dijalankan? Bukan. Aku bukannya tidak bersyukur. Bukannya aku tidak memandang orang lain, yang mungkin hidupnya lebih sulit dijalani.

Aku hanya menilik hidupku. Hidup sebagai wanita berusia 25 tahun dengan segala dilematis, pilihan, mimpi dan realita.

Wanita berusia 25 tahun. Aku. Jujur, aku belum punya rencana akan jadi apa aku. Aku menjalani hidup untuk saat ini. Yah, rencana ada. Namun aku berkaca pada orang di sekitarku yang punya rencana sangat apik untuk masa depan. Toh, hidup mereka ada saja yang tak berjalan sesuai rencana. Bukan. Tidak. Aku tidak menyuruh kalian untuk menjadi tidak percaya pada rencana. Rencana itu seperti alaminya manusia saja. Pasti kalian semua memiliki rencana paling tidak apa yang akan kalian lakukan 5 menit kedepan.

Dilematis 25 tahun. Teman, kerabat yang seusia, sudah menetapkan rencana. Istilah kerennya “Settle Down”. Sudah menikah paling tidak. Ini. Menikah. Momok yang akan selalu diperbincangkan saat pertemuan keluarga. Aku belum cukup beruntung dalam urusan hati dan cinta. Rasa sakit dahulu ditambaha aku ini terlalu asyik dengan dunia sendiri, membuat, yah, aku masih sendiri. Dibilang pemilih? Bukan. Eh iya deh. Kita harus memilih yang sesuai isi hati bukan? Tapi pemilih dalam konotasi fisik, materi, tidak sama sekali. Toh, aku juga pernah mengecap lelahnya mencari materi. Atau kerap kali diejek karena tubuhku tidak seperti standar orang pada umumnya. Laki-laki. Isi hatinya kadang kabur oleh nafsunya.

Pilihanku, untuk tetap menyendiri sampai sekarang, sedikit banyak membentuk diriku. Aku tak mudah begitu saja percaya pada laki-laki. Yah, aku membentuk dinding di sekitarku bukan buat mengusir mereka. Tapi aku mau lihat, siapa yang sungguh-sungguh mampu memanjat atau bahkan menjebol hatiku. Dengan kebaikan serta ketulusan. Pilihanku saat ini adalah pekerjaan dan semua yang kulakukan untuk aku.

Mimpi yang aku punya kelewat banyak. Kadang-kadang mimpi satu belum terlaksana, sudah punya mimpi lagi. Panggil aku si manusia tidak konsisten. Namun banyaknya mimpiku membuat aku mau terus belajar. Sampai nanti.

Realitanya, tidak semua orang suka atau mau mendukung aku. Lagi-lagi alu harus berjibaku dengan kepenuhan hati ini sendiri. Sebaik-baiknya aku, pasti ada saja yang tidak mendukung malah cenderung meremehkan.

Ini aku. Ini hatiku. Ini diriku.

Biarkan segala kebingungan akan cinta, pikiran, perasaan, menjadi milikki sendiri

^wap

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s