Menunggu. Belajar melepaskan

Aku menunggu sesuatu yang saat itu aku kagumi. Menunggu ada kesempatan untuk aku, Si Perempuan, dapat menunjukkan rasa sayang. Kamu pergi duluan meninggalkan SMA tempat dimana aku jatuh cinta terdalam pertama kalinya. Setelah itu, aku berusaha mencari, untuk menjalin paling tidak pertemanan. Sulit. Kamu benar-benar hilang. Bukannya kesempatan itu tidak diberikan Tuhan. Saat SMA aku sempat menghubungimu. Bahkan, saat aku berusaha melupakan jatuh cinta pertamaku padamu, Tuhan mempertemukan kita di padatnya ibukota. Begitu dekat jarak kita. Aku masih dengan malu tak berani menyapamu. Hanya jantung yang berirama cepat seperti ingin lompat.
Aku pun percaya, saat itu, mungkin Tuhan punya niatan menyatukan kita.
Waktu berjalan, tak kutemukan kamu lagi. Hingga satu waktu, teknologi mempertemukan kita. Ku tanya kabar. Serta, status kamu. MENIKAH dan menunggu buah hati jawabmu.
Aku hancur. Iya. Hancur. Aku patah hati. Mungkin aneh bagi kalian. Aku yang tak pernah sepatah kata pun berbicara pada mu, bisa sebegitu hancur dan patah hati.
Namun bukankah itu rahasia hati? Tak memilih. Tetap bertahan meski tahu kadang tak ada gunanya berharap?
Mungkin ini jawaban Tuhan atas doa-doaku. Aku harus melangkah, memperbaiki diri. Karena mungkin ada jodoh yang telah Ia siapkan untukku.

Teruntuk Mr. L ,you will always be my first love.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s